Banyak yang menganggap musik menjadi bagian yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Malahan, mungkin sebagian dari Kamu tidak bisa hidup tanpa yang satu ini. Mulai dari pagi hari, Kamu menyetel lagu dari handphone sambil berolahraga ringan, mandi, atau, sarapan.
Kemudian agar menambah semangat dan menghilangkan bosan, Kamu mendengarkan musik lagi di perjalanan menuju ke kantor atau kampus. Di sore atau malam hari pun, Kamu mungkin akan nongkrong atau makan malam di restoran yang menyajikan live music.
Musik juga kerap dihubungkan dengan suasana hati atau mood seseorang. Ada beberapa lagu yang bisa membuat Kamu senang, sedih, berenergi, atau merasa tenang. Karena musik berdampak terhadap pola pikir dan ketenangan seseorang, maka tidak heran kalau beberapa studi menyimpulkan musik dapat dijadikan terapi, salah satunya adalah penelitian dari Natural Standard, kolaborasi penelitian internasional yang secara sistematis meninjau bukti ilmiah tentang pengobatan komplementer dan alternatif.
Semua bentuk musik kemungkinan memiliki efek terapeutik. Dalam teori pengobatan Tiongkok, 5 organ dalam dan sistem meridian (jalur lalu lintas energi dalam tubuh) dipercaya dapat merespons nada musik tertentu, yang digunakan untuk mempercepat proses penyembuhan.
Selain itu, beberapa jenis musik juga disebut-sebut dapat membangkitkan stimulasi neurologis. Sebagai contoh, musik klasik dapat membuat orang yang mendengarnya merasa nyaman dan rileks, sedangkan musik rok bisa membuat seseorang merasa tidak nyaman.
Musik juga dapat digunakan untuk mengungkapkan respons emosional yang tersembunyi maupun menstimulasi kreativitas. Kondisi apa saja ya yang bisa menggunakan musik sebagai terapi penyembuhannya? Dilansir melalui psychologytoday.com, inilah jawabannya! (AS)
Autisme

Autisme adalah gangguan pada otak yang diasosiasikan dengan masalah perkembangan, terutama pada kemampuan komunikasi dan interaksi sosial. Berdasarkan keterangan dari American Psychiatric Associaton, autisme diklasifikasikan sebagai tipe dari autism spectrum disorder (ASD). Karakter dari gangguan ini adalah adanya permasalahan pada komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku berulang yang tidak biasa.
Beberapa ahli menggunakan istilah yang lebih luas untuk mendeskripsikan autisme, yaitu gangguan perkembangan pervasif atau pervasive development disorder (PDD). Sebagai tambahan, ada 4 gangguan yang dikualifikasikan sebagai PDD, seperti Asperger’s syndrome, childhood disintegrative disorder, pervasive developmental disorder-not otherwise specified (PDD-NOS), dan Rett syndrome.
Orang dengan ASD biasanya memiliki ketertarikan dan respons yang tinggi terhadap musik. Melalui musik, mereka dapat mempelajari keterampilan komunikasi verbal dan nonverbal, serta membantu proses perkembangan.
Depresi

Depresi terkait dengan situasi yang meliputi diantaranya perasaan sedih, murung, putus asa, tidak percaya diri, dan menyalahkan diri sendiri secara berlebihan. Seseorang yang mengalami depresi akan cenderung meninterprestasikan pemikiran negatif dari apa yang terjadi dalam keadaan kondisi yang tertekan pada saat seseorang mengalami depresi.
Seseorang yang mengalami depresi perasaan dan perilakunya diakibatkan oleh persepsi negative mereka dan verbalisme mereka. Penelusuran literatur yang dilakukan oleh Beck menentukan konsistensi yang menarik perhatian mengenai depresi, seperti adanya penurunan mood, kesedihan, pesimisme tentang masa depan, retardasi dan agitasi, sulit berkonsentrasi, menyalahkan diri sendiri, lamban dalam berpikir serta serangkaian tanda vegetative seperti gangguan dalam nafsu makan maupun gangguan dalam hal tidur. Depresi merupakan perasaan murung, kehilangan gairah untuk melakukan hal-hal yang biasa dilakukannya dan tidak dapat mengekspresikan kegembiraan. Biasanya terjadi pada awal sampai pertengahan usia dewasa. Dapat terjadi sekali, dapat terjadi sering kali, dapat sebentar, dapat selama hidup, dapat bertahap, dan dapat mendadak berat
terapi musik memiliki potensi baik sebagai terapi komplemen, sebagai fasilitator bahkan sebagai terapi alternatif non farmakologis. Penambahan terapi musik pada pengobatan yang dilakukan pada pasien depresi dapat meningkatkan efek analgesik, efek kenyamanan yang dapat menurunkan depresi dan juga dapat meningkatkan kepercayaan dalam diri seseorang. Musik dapat berperan sebagai fasilitator dimana musik dapat menyentuh seseorang secara emosional dan mencapai perasaan terdalam pasien sehingga dapat menjadi alat untuk mengungkapkan ekspresi nonverbal pasien dan pasien dapat lebih membuka diri.
Kecemasan

Kecemasan merupakan suatu gejala yang normal pada manusia. Namun akan disebut patologis jika gejalanya menetap dan mengganggu ketentraman individu. Kecemasan dapat terjadi akibat respon dari keadaan stress atau konflik. Respon tersebut berupa kekhawatiran, kegelisahan, ketakutan, dan rasa tidak tentram akibat dari ancaman bahaya dari dalam maupun luar individu tersebut. penanganan kecemasan Selain terapi farmakologi, sekarang juga telah banyak dikembangkan terapi nonfarmakologi dalam mengurangi tingkat kecemasan yang dapat dilakukan oleh perawat sebagai salah satu tindakan mandirinya, salah satunya adalah terapi musik.
Terapi musik adalah suatu proses yang menghubungkan antara aspek penyembuhan musik itu sendiri dengan kondisi dan situasi fisik/tubuh, emosi, mental, spiritual, kognitif dan kebutuhan sosial seseorang Terapi musik dirancang untuk mengatasi permasalahan yang berbeda serta maknanya juga akan berbeda pada setiap orang. Untuk itu terapi musik digunakan secara lebih komprehensif termasuk untuk mengatasi rasa sakit, manajemen stress dan kecemasan atau untuk menstimulasi pertumbuhan dan pengembangan bayi.
Sumber :
- Brotons, Melissa & Staum, Myra J. (2011). The effect of Music Amplitude on the
Relaxation Respon. Journal of Music Therapy by the American Music
Therapy Association. XXXVII (1) pages 35-36. - Djohan.(2010). Terapi Musik Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Galang Press
Komentar Terbaru